Luthfiyah Nurlaela’s Blog

March 25, 2009

MANAGING WITH HEART

Filed under: Uncategorized — Tags: , — luthfiyahnurlaela @ 3:51 pm

Oleh: Luthfiyah Nurlaela

  1. Rangkuman

Goleman memberikan ilustrasi betapa pentingnya kecerdasan emosional dalam mengatasi berbagai masalah. Pada suatu perusahaan, seringkali orang-orang melakukan kesalahan yang sebenarnya dapat dicegah, terutama apabila mereka bekerja lebih kompak. Kerja kelompok, jalur komunikasi yang terbuka, kerja sama, saling mendengarkan, dan mengutarakan pendapat dengan jujur, yang merupakan dasar-dasar kecerdasan sosial, adalah sangat penting untuk ditekankan, selain keterampilan teknis.

Pengaruh kecerdasan emosional terhadap untung rugi perusahaan merupakan gagasan yang relatif baru bagi dunia usaha. Sebuah studi menunjukkan bahwa sebagian besar eksekutif perusahaan merasa bahwa pekerjaan mereka menuntut kemampuan otak, bukan perasaan. Banyak yang mengkhawatirkan apabila menunjukkan sikap empati kepada anak buah akan membuat mereka terlibat konflik dengan perusahaan; dan ini merupakan tindakan yang akan menyulitkan urusan dengan anak buah. Bila tidak menjaga jarak secara emosional, perusahaan tidak mungkin membuat keputusan-keputusan yang tegas yang disyaratkan dalam bisnis.

Studi tersebut dilakukan dalam tahun 1970-an, ketika dunia bisnis masih sangat berbeda. Menurut Goleman, sikap-sikap semacam itu pada saat ini sudah ketinggalan jaman; realitas persaingan yang baru menempatkan kecerdasan emosional sebagai hal yang amat dihargai di tempat kerja. Efek negatif rendahnya kecerdasan emosional di tempat kerja antara lain adalah orang secara emosional terganggu, tidak dapat mengingat, berkonsentrasi, belajar, atau membuat keputusan dengan jernih. Seorang konsultan manajemen menyatakan, “stres membuat orang menjadi bodoh.” Sedangkan pada sisi positif, penguasaan keterampilan emosional dasar menjadikan orang mampu memahami perasaan orang lain, pandai mengatasi perselisihan. Kepemimpinan bukan berarti berani menguasai, namun seni meyakinkan orang untuk bekerja keras menuju sasaran bersama.

Tiga penerapan kecerdasan emosional yang penting adalah: (1) mampu mengutarakan keluhan sebagai kritik membangun, (2) menciptakan suasana di mana keragaman dihargai bukannya menjadi sumber pertentangan, dan (3) menjalin jaringan kerja secara efektif.

Kritik yang disampaikan dengan cara yang tidak bijaksana merupakan cara terburuk memotivasi seseorang. Kritik yang bersifat prasangka dan ditujukan untuk menyerang karakter, bernada mencemooh, sarkasme, dan menghina; semuanya akan menimbulkan sikap defensif dan mengelak dari tanggung jawab, yang pada akhirnya sikap menutup diri atau sikap bertahan yang pasif dan terasa menyakitkan yang timbul karena merasa diperlakukan tidak adil. Kritik semacam itu membuat orang yang terkena merasa marah dan tak berdaya. Dari sudut pandang kecerdasan emosional, kritik semacam itu memperlihatkan ketidakpekaan akan perasaan yang dapat muncul pada orang-orang yang terkena, dan efek merusak yang ditimbulkan oleh perasaan-perasaan tersebut terhadap motivasi, energi, serta keyakinan dalam mengerjakan tugas. Harry Levinson, seorang psikoanalis mengemukakan beberapa seni menyampaikan kritik, meliputi: (1) Langsung pada sasaran, (2) Tawarkam suatu solusi, (3) Lakukan secara tatap muka, dan (4) Peka, yang merupakan unsur berempati.

Tentang masalah keanekaragaman, yang seringkali menjadi akar masalah adalah prasangka. Prasangka adalah semacam pelajaran emosi yang terjadi pada masa awal kehidupan, sehingga menyulitkan usaha untuk menghapus reaksi-reaksi itu sama sekali, bahkan pada orang-orang dewasa yang juga merasa bahwa mempertahankan prasangka semacam itu adalah tindakan keliru. Apabila penelitian tentang prasangka melibatkan pembelajaran bagaimana membuat budaya perusahaan lebih toleran, maka itu berupa dorongan untuk berani memprotes bahkan terhadap tindakan diskriminasi atau pelecehan yang paling kecil sekalipun. Dalam masalah ini, kecerdasan emosional amat menguntungkan, terutama bila seseorang memiliki kecakapan sosial untuk mengetahui bukan saja kapan tetapi juga bagaimana berbicara secara produktif menentang prasangka. Umpan balik semacam itu seharusnya diekspresikan dengan jelas tanpa mengurangi kehalusan kritik yang efektif, sehingga dapat diterima tanpa sikap defensif.

Selanjutnya dalam rangka menjamin kerjasama secara efektif, Goleman menekankan pentingnya ketangkasan organisasi dan IQ kelompok. IQ kelompok merupakan total himpunan bakat dan keterampilan orang-orang yang terlibat. Seberapa baik mereka menyelesaikan tugas ditentukan oleh tingginya IQ itu. Unsur tunggal paling penting pada kecerdasan kelompok ternyata bukanlah IQ rata-rata dalam artian akademis, melainkan “IQ” dalam artian kecerdasan emosional. Kunci bagi IQ kelompok yang tinggi adalah keselarasan sosial. Kemampuan untuk menyelaraskan diri inilah, dengan asumsi segala sesuatunya setara, akan membuat suatu kelompok menjadi amat berbakat, produktif, dan sukses.

  1. Ulasan

Pokok-pokok pikiran Goleman tentang kecerdasan emosional dan pentingnya kecerdasan tersebut dalam memecahkan berbagai persoalan dalam kehidupan, khususnya dalam perusahaan dan bentuk organisasi lain, sungguh merupakan gagasan yang menarik, serta penting untuk dipahami serta diaplikasikan bagi siapa saja. Seseorang yang memiliki kecerdasan emosional mempunyai kemampuan yang sangat baik dalam memahami orang lain maupun dirinya sendiri. Dalam uraiannya, tersirat bahwa kecerdasan emosional yang dimaksudkan Goleman, tetap terkait erat dengan pentingnya mengedepankan kemampuan rasional.

Kecerdasan emosional dapat diselaraskan dengan kecerdasan personal menurut Gardner (1993). Gardner membagi kecerdasan personal menjadi dua, yaitu: (1) kecerdasan intrapersonal, yang terutama terlibat dalam kajian individu dan pengetahuan tentang persaannya sendiri, dan (2) kecerdasan interpersonal, yang lebih cenderung melihat keluar, menuju perilaku, perasaan, dan motivasi orang lain. Kaitannya dengan emosi, Gardner mengemukakan ada satu dimensi kecerdasan personal yang pada dasarnya telah diketahui tetapi tidak terlalu dieksplorasi dalam elaborasi Gardner, yaitu: peranan emosi. Ini karena di dalam penelitiannya Gardner cenderung melihat kecerdasan dengan cara kognitif. Ketika pertama kali Gardner menulis tentang kecerdasan personal, dia berbicara tentang emosi, khususnya dalam pemikirannya mengenai kecerdasan intrapersonal—satu komponen yang secara emosional ada dalam diri setiap orang. Tetapi yang telah dikembangkan dalam prakteknya, teori tentang kecerdasan multipel lebih memfokuskan pada metakognisi—yang merupakan kemampuan proses mental seseorang—daripada sekedar kemampuan emosional. Namun Gardner mengakui betapa pentingnya emosional dan kaitannya dalam mempertahankan hubungan dalam kehidupan. Dia menyatakan bahwa banyak orang dengan IQ 160 bekerja bagi orang yang ber-IQ 100, hanya karena orang tersebut kurang dalam kecerdasan personalnya. Namun sayangnya, Gardner tidak menggambarkan dengan jelas dan detil mengenai perasaan dalam hal kecerdasan; dan lebih menekankan pada kognisi tentang perasaan.

Dalam kaitannya dengan pendidikan, kecerdasan emosional sebenarnya dapat dibentuk dan dikembangkan, baik dalam pendidikan keluarga maupun pendidikan formal. Pentingnya memahami emosi dan merespon dengan tepat mood, temperamen, motivasi, dan keinginan anak, merupakan hal-hal penting dalam pembelajaran (Kovalik, 1999; Pearson, 2000). Kovalik mencetuskan suatu model belajar yang disebutnya sebagai Integrated Thematic Instruction (ITI), yang di dalam salah satu prinsipnya mengemukakan bahwa, belajar adalah persekutuan tak terpisahkan antara otak dan tubuh; dan emosi adalah penjaga belajar dan unjuk kerja. Dalam ITI Model ini, beberapa nilai yang diperoleh antara lain: (1) Tanggung jawab warga negara untuk melestarikan suatu masyarakat yang demokratis—di dalam pembelajaran siswa, di mana mereka dapat membuat suatu perbedaan, (2) Peduli, menghargai, dan kolaborasi, (3) Dapat dipercaya, jujur, mendengar aktif, dan tidak menjatuhkan, dan (4) Emosi sangat mempengaruhi belajar.

Beberapa pernyataan dari Dorothy Low Nolte yang sangat menarik mengenai “children learn what they live with” adalah: Jika anak biasa hidup dicacat dan dicela, kelak ia akan terbiasa menyalahkan orang lain; Jika anak biasa hidup dalam permusuhan, kelak ia akan terbiasa menentang dan melawan; Jika anak biasa hidup serba dimengerti dan dipahami, kelak ia akan biasa penyabar; Jika anak biasa hidup diberi semangat dan dorongan, kelak ia akan terbiasa percaya diri; Jika anak biasa hidup jujur, kelak ia akan terbiasa memilih kebenaran; Jika anak biasa hidup di tengah keramahtamahan, kelak ia akan terbiasa berpendirian “Sungguh indah dunia ini”. Semua ini menunjukkan, sebenarnya dari lingkungan hidupnya anak-anak belajar, termasuk belajar mengembangkan kecerdasan emosinya.

Daftar Pustaka:

Goleman, D. 1995. Emotional Intelligence: Why it can matter more than IQ. New York: bantam Books.

Gardner, H. 1993. Frames of Mind: The theory of multiple intelligences. New York: Basic Books.

Kovalik. 1999. Integrated thematic instruction: from brain research to application. Instructional-Design Theories and Models. II. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publishers.

Pearson, Sue. 2000. Tools for citizenship and life: Using the ITI Lifelong and Lifeskills in your ckassroon. Susan Kovalik and Associates, Inc. Kent, WA.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: