Luthfiyah Nurlaela’s Blog

February 28, 2009

IMPLIKASI MODEL INTEGRATED THEMATIC INSTRUCTION (ITI) PADA PEMBELAJARAN KETAHANAN PANGAN

Filed under: Uncategorized — Tags: — luthfiyahnurlaela @ 3:45 pm

Luthfiyah Nurlaela

A. Pendahuluan

Pembangunan ketahanan pangan dalam konteks pembangunan nasional adalah sangat penting, karena: (1) pangan yang cukup dan bergizi merupakan komponen utama dalam pembangunan manusia yang sehat, cerdas, dan produktif, (2) memperoleh pangan yang cukup, aman, dan bergizi merupakan hak azasi setiap orang untuk bebas dari kelaparan (Deklarasi Roma tentang Ketahanan Pangan Dunia, FAO, 1996), dan (3) ketahanan pangan merupakan pilar bagi ketahanan nasional.

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 7 tentang Pangan, pengertian ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik jumlah dan mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Dengan pengertian tersebut, wujud dari ketahanan pangan dapat lebih dipahami sebagai berikut: (1) terpenuhinya pangan dengan kondisi ketersediaan yang cukup, mencakup pangan yang berasal dari tanaman, ternak, dan ikan untuk memenuhi kebutuhan atas karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral, serta turunannya, yang bermanfaat bagi pertumbuhan kesehatan manusia, (2) terpenuhinya pangan dengan kondisi yang aman, diartikan bebas dari cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia, serta sesuai dengan kaidah agama, (3) terpenuhinya pangan dengan kondisi yang merata, diartikan pangan harus tersedia setiap saat dan merata di seluruh tanah air, dan (4) terpenuhinya pangan dengan kondisi terjangkau, diartikan pangan mudah diperoleh rumah tangga dengan harga yang terjangkau.

Permasalahan yang dihadapi saat ini, khususnya di Indonesia, adalah wujud ketahanan pangan dengan pengertian tersebut belum sepenuhnya tercapai. Masih rendahnya ketahanan pangan bangsa ini tercermin dari beberapa indikator, antara lain: sekitar 1,7 juta balita di Indonesia pada tahun 1999 masih menderita gizi buruk, bahkan 10 persen di antaranya tergolong gizi buruk berat; sekitar 37,8 persen anak usia sekolah 5-9 tahun mengalami gangguan pertumbuhan (survei di 5 propinsi); sekitar 24,2 persen wanita usia subur menderita resiko kekurangan energi kronis, dan sekitar 28 kabupaten kota terindikasi mengalami kerawanan pangan dan gizi (Tampubolon, 2002). Kondisi seperti ini apabila berlanjut akan berdampak pada terbentuknya suatu generasi yang rentan baik ketahanan fisik maupun daya pikirnya, padahal mereka harus bersaing di dalam era global yang semakin kompetitif, dengan muatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin tinggi pula. Oleh sebab itu, masalah kecukupan pangan ini patut menjadi perhatian setiap warga bangsa.

Bertitik tolak dari uraian di atas, maka perlu dilakukan upaya sosialisasi pendidikan ketahanan pangan dengan baik. Selama ini sosialisasi yang dilakukan lebih banyak melalui kegiatan kampanye, lomba/pameran/gelar makanan di tingkat kabupaten/kota, provinsi, maupun pusat, dengan keterlibatan pihak instansi terkait. Upaya sosialisasi ini memiliki beberapa kelemahan, antara lain kurang komprehensif, sesaat, sehingga tidak bertahan lama dalam menanamkan pemahaman dan menumbuhkembangkan kesadaran masyarakat. Sosialisasi lebih lanjut, yang selama ini belum pernah dilakukan, adalah melalui jalur pendidikan formal, khususnya sekolah dasar. Sekolah dasar, sebagai agen sosialisasi sekunder bagi peserta didik yang berusia muda memiliki peran yang strategis karena pada usia-usia tersebut masih sangat terbuka peluang untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma yang diharapkan akan lebih mudah tertanam serta bertahan lama. Relevan dengan pendapat Gardner (1999), melalui sekolah—dalam hal ini tentunya termasuk sekolah dasar—paling tidak aspek-aspek disiplin ilmu dapat diwariskan kepada anak sebagai bekal hidup di masyarakat. Harus disadari bahwa keberhasilan dan keterjaminan perwujudan ketahanan pangan memprasyaratkan kesadaran masyarakat Indonesia akan arti penting dan sentralnya ketahanan pangan bagi kehidupan masa kini dan masa mendatang. Kesadaran ini tidak mungkin tumbuh dan berkembang hanya dengan iklan-iklan, kampanye, pelatihan, pameran, dan lomba-lomba. Kesadaran ini harus ditumbuhkan dengan lebih komprehensif, mendasar, dan sistemik yang salah satunya adalah melalui sekolah dasar.

“Pendidikan tentang pangan” sudah mulai dikenalkan di SD kelas atas, namun masih belum berperspektif kepada “peningkatan ketahanan pangan”. Di beberapa mata pelajaran (misalnya IPA kelas V), pengenalan tentang pangan atau makanan, baru sebatas pada pemberian pengetahuan mengenai makanan itu sendiri, fungsinya di dalam tubuh, macam bahan pangan serta nutrisi yang dikandungnya. Namun mengenai bagaimana memilih makanan dengan memanfaatkan berbagai sumber bahan pangan, terutama pangan lokal (untuk diversifikasi pangan, yang merupakan salah satu aspek penting dalam ketahanan pangan), belum dikenalkan.

Selain itu, pengorganisasian pengetahuan tentang pangan tersebut masih terlalu menekankan pada pemerolehan pengetahuan, belum menyentuh aspek sikap serta kurang memberikan peluang pelibatan berbagai aktivitas anak dalam upaya memahami pangan. Pangan, dengan demikian hanya dipahami sebagai suatu pengetahuan, sebagaimana pelajaran lain pada umumnya, dan belum dipahami sebagai sesuatu yang merupakan kebutuhan yang sangat penting, yang harus bisa diupayakan sendiri, dengan memanfaatkan lingkungan, serta menggali potensi setiap orang untuk mengadakan dan mengelolanya, agar terhindar dari kelaparan, ketergantungan pada satu macam bahan pangan pokok (beras), dan mengembangkan keberdayaan masyarakat dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan.

Salah satu upaya untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut adalah dengan mengintegrasikan pendidikan ketahanan pangan di dalam kurikulum SD. Pendidikan ketahanan pangan tidak perlu menjadi mata pelajaran tersendiri, tapi cukup sebagai “tema”, yang dapat dikaitkan dengan berbagai mata pelajaran (misalnya IPA dan IPS). Oleh sebab itu, model pembelajaran yang dipilih adalah pembelajaran tematik terpadu (Integrated Thematic Instruction/ITI). Sebagaimana yang dikemukakan oleh Kovalik dan McGeehan (1999), beberapa nilai yang diperoleh melalui model ini antara lain: (1) Tanggung jawab warga negara untuk melestarikan suatu masyarakat yang demokratis—di dalam pembelajaran siswa, di mana mereka dapat membuat suatu perbedaan-perbedaan di antara mereka, (2) Pembelajaran diorganisasikan dengan tema yang memadukan mata pelajaran dan mengembangkan berpikir sistemik, (3) Peduli, menghargai, dan kolaborasi.

Menurut ahli psikologi Jean Piaget (dalam Joni, 1996), kemampuan anak untuk bergaul dengan hal-hal yang bersifat abstrak yang diperlukan untuk mencernakan gagasan-gagasan dalam berbagai mata pelajaran akademik umumnya baru terbentuk pada usia ketika mereka duduk di kelas terakhir SD, dan berkembang lebih lanjut pada usia SMP. Oleh sebab itu, cara pengemasan pengalaman belajar yang dirancang untuk para siswa akan sangat berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman tersebut bagi mereka. Pengalaman belajar yang lebih menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptualnya, baik intra maupun antar bidang studi, akan meningkatkan peluang bagi terjadinya pembelajaran yang lebih efektif. Artinya, kaitan konseptual dari apa yang tengah dipelajari dengan semakin banyak sisi dalam bidang yang sama, dan bahkan dengan bidang yang lain, semakin terhayati oleh para pebelajar. Di sinilah salah satu pentingnya penerapan model pembelajaran ITI.

Beberapa hasil penerapan ITI telah dilaporkan dan dipublikasikan. Program yang dinamakan CLASS—suatu program di Indiana yang menggunakan model ITI dan diimplementasikan oleh pengajar yang telah dilatih dengan ITI, dalam salah satu studinya menganalisis kinerja 100 SD dalam hal pengujian kemajuan belajar yang dinamakan ISTEP (Indiana Statewide Testing for Educational Progress). Penelitian ini melaporkan bahwa sekolah CLASS mempunyai skor ISTEP lebih tinggi daripada SD yang lain di negara tersebut, dan bahwa skor pada SD CLASS terus meningkat dari waktu ke waktu (Buechler, M., 1993). Penelitian lainnya yang melibatkan 32 siswa yang diikutkan dalam “pilot CLASS school” dari TK sampai tingkat 5, menemukan bahwa skor ISTEP kelompok ini mencapai nilai satu standar deviasi di atas rata-rata dalam bidang membaca, seni-bahasa, dan matematika (Grisham, D.L., 1995). Penelitian yang lain mengumpulkan data persepsi terhadap pengaruh program CLASS pada kinerja melaporkan, bahwa kebanyakan guru percaya CLASS mempunyai pengaruh positif pada motivasi dan kinerja siswa, khususnya pada keterampilan berpikir tingkat yang lebih tinggi. Semua siswa menyatakan CLASS memberikan pengaruh positif pada kehadiran dan sikap siswa, iIklim sekolah, dan moral serta profesionalisme guru (Morgan, W., 1998). Selanjutnya, pada tahun 1998, sebuah disertasi doktoral meneliti perbandingan antara skor membaca siswa pada SD ITI dengan skor siswa pada sekolah kontrol. Selama periode dua tahun, skor siswa ITI menunjukkan peningkatan sebesar 16%, sedangkan sekolah kontrol hanya mencapai peningkatan sebesar 3% (Ruth, N. S., 1998).

Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini akan mengembangkan pembelajaran pendidikan ketahanan pangan dengan menggunakan model ITI.

B. Ketahanan Pangan dan Permasalahannya

Upaya memenuhi kebutuhan pangan bagi setiap individu sudah menjadi komitmen internasional. Pada tahun 1974, Food and Agriculture Organization (FAO) mengadakan World Food Summit yang pertama. Salah satu pernyataan penting dari pertemuan itu adalah bahwa “seluruh negara dan masyarakat dunia secara keseluruhan mengupayakan untuk menghilangkan kelaparan dan kekurangan gizi dalam waktu satu dekade.” Namun ternyata pernyataan tersebut belum dapat diwujudkan sampai dengan tahun 1990-an, terutama karena adanya masalah ketidakseimbangan distribusi, daya beli, dan pertumbuhan penduduk.

Pada tahun 1992, FAO/WHO mengadakan International Conference on Nutrition di Roma yang antara lain mengemukakan pernyataan untuk “menghilangkan kematian yang disebabkan oleh kelaparan”. Dalam konferensi ini mulai dibahas mengenai pentingnya ketahanan pangan (food security) oleh para ahli pangan dan gizi. Selanjutnya pada tahun 1996, World Food Summit yang diselenggarakan oleh FAO memberi tekanan lebih besar mengenai pentingnya ketahanan pangan dengan dikeluarkannya kesepakatan untuk “mencapai ketahanan pangan bagi setiap orang dan untuk melanjutkan upaya menghilangkan kelaparan di seluruh negara.” Sasaran jangka menengah yang ingin dicapai adalah “menurunkan jumlah orang yang kekurangan gizi dari 800 juta menjadi 400 juta paling lambat tahun 2015” (Veneman, Ann M. 2002).

Pernyataan-pernyataan dari hasil konferensi pangan dunia tersebut menunjukkan bahwa pemenuhan pangan bagi seluruh penduduk merupakan suatu komitmen penting. Bahkan sudah diakui bersama bahwa hak untuk terbebas dari kelaparan merupakan salah satu hak azasi manusia. Dalam konteks ini termasuk negara Indonesia.

Pada tanggal 6 April 2001, Wakil Presiden RI Megawati Soekarnoputeri, mencanangkan Gerakan Ketahanan Pangan Nasional tahun 2001 di Istana Presiden, Bogor. Besarnya perhatian wakil presiden pada pemantapam ketahanan pangan menunjukkan betapa pentingnya pembangunan ketahanan pangan dalam konteks pembangunan nasional. Paling tidak ada tiga hal yang menunjukkan arti penting dan peran strategis pemantapan ketahanan pangan. Pertama, pangan yang cukup dan bergizi merupakan komponen utama dalam pembangunan manusia yang sehat, cerdas, dan produktif. Kedua, memperoleh pangan yang cukup, aman, dan bergizi merupakan hak azasi setiap orang untuk bebas dari kelaparan (Deklarasi Roma tentang Ketahanan Pangan Dunia, FAO, 1996). Ketiga, ketahanan pangan merupakan pilar bagi ketahanan nasional, karena tanpa pangan yang cukup, tidak satu bangsapun dapat melaksanakan pembangunan politik, ekonomi, sosial, budaya, hingga keamanan negara dengan baik. Intinya, ketahanan pangan merupakan basis bagi pengembangan sumber daya manusia berkualitas dan bagi pengembangan ketahanan nasional suatu bangsa.

Paradigma baru dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional sebenarnya sudah diamanatkan MPR sebagaimana tertuang dalam GBHN 1999-2004. GBHN tersebut memberi arahan agar pemerintah melakukan “pengembangan sistem ketahanan pangan yang berbasis pada keragaman sumber daya bahan pangan, kelembagaan budaya lokal, dalam rangka menjamin tersedianya pangan dan nutrisi dalam jumlah dan mutu yang dibutuhkan, pada tingkat harga yang terjangkau dengan memperhatikan pendapatan petani. Dari amanat GBHN tersebut jelas tergambar bahwa sistem ketahanan pangan harus dimulai pada tingkat lokal dengan memanfaatkan atau mengusahakan variasi bahan pangan yang ada di tingkat lokal. Dengan kata lain, tidak perlu terjadi penyeragaman pola produksi dan konsumsi pangan secara nasional. Selain itu, amanat tersebut juga mengandung implikasi bahwa perencanaan pangan harus dibangun pada satuan rumah tangga, di mana ketahanan pangan nasional hanya akan mantap apabila kondisi ketahanan pangan masing-masing rumah tangga atau keluarga juga mantap. Amanat GBHN tersebut juga menyiratkan dengan jelas perlunya efisiensi produksi dalam menghasilkan bahan pangan lokal agar memiliki daya saing dan harganya terjangkau oleh para konsumen tetapi tetap menguntungkan bagi produsen atau petani.

Walaupun pemerintah telah mengupayakan pemenuhan pangan yang cukup bagi seluruh penduduk, namun sampai saat ini ketahanan pangan nasional masih belum juga mantap. Masih rendahnya ketahanan pangan bangsa ini tercermin dari beberapa indikator, antara lain: sekitar 1,7 juta balita di Indonesia pada tahun 1999 masih menderita gizi buruk, bahkan 10 persen di antaranya tergolong gizi buruk berat; sekitar 37,8 persen anak usia sekolah 5-9 tahun mengalami gangguan pertumbuhan (survei di 5 propinsi); sekitar 24,2 persen wanita usia subur menderita resiko kekurangan energi kronis, dan sekitar 28 kabupaten kota terindikasi mengalami kerawanan pangan dan gizi. Kondisi seperti ini apabila berlanjut akan berdampak pada terbentuknya suatu generasi yang rentan baik ketahanan fisik maupun daya pikirnya, padahal mereka harus bersaing di dalam era global yang semakin kompetitif, dengan muatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin tinggi pula. Oleh sebab itu, masalah kecukupan pangan ini patut menjadi perhatian setiap warga bangsa.

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 7 tentang Pangan, pengertian ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik jumlah dan mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Dengan pengertian tersebut, wujud dari ketahanan pangan dapat lebih dipahami sebagai berikut: (1) terpenuhinya pangan dengan kondisi ketersediaan yang cukup, mencakup pangan yang berasal dari tanaman, ternak, dan ikan untuk memenuhi kebutuhan atas karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral, serta turunannya, yang bermanfaat bagi pertumbuhan kesehatan manusia, (2) terpenuhinya pangan dengan kondisi yang aman, diartikan bebas dari cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia, serta sesuai dengan kaidah agama, (3) terpenuhinya pangan dengan kondisi yang merata, diartikan pangan harus tersedia setiap saat dan merata di seluruh tanah air, dan (4) terpenuhinya pangan dengan kondisi terjangkau, diartikan pangan mudah diperoleh rumah tangga dengan harga yang terjangkau.

Permasalahan yang dihadapi saat ini, khususnya di Indonesia, adalah wujud ketahanan pangan dengan pengertian tersebut belum sepenuhnya tercapai, dalam arti masih jauh dari terpenuhinya berbagai indikator pangan tersebut. Dalam aspek ketersediaan, secara sistematis pola konsumsi pangan masyarakat ternyata malahan mengarah ke satu pangan pokok, yaitu beras. Konsumsi energi di Jawa Timur berdasarkan SUSENAS 1999, untuk kelompok padi-padian sebesar 1.134 Kkal/Kap/hari, umbi-umbian 48 Kkal/Kap/hari, kacang-kacangan 74 Kkal/Kap/hari (Nindyowati, 2002). Kondisi ini merupakan hasil dari suatu kebijakan pangan yang terlalu dikonsentrasikan pada penyediaan beras yang cukup, harga stabil dan relatif murah untuk suatu periode yang cukup lama. Program pembangunan pangan selama ini meletakkan prioritas utama dan pertama selalu pada upaya peningkatan produksi beras, dan apabila terjadi kegagalan produksi di dalam negeri segera dipenuhi dari import.

Pendekatan seperti ini ternyata mengabaikan keragaman potensi sumberdaya, kelembagaan, dan budaya lokal dalam mengembangkan ketahanan pangan. Keragaman potensi sumber pangan antar wilayah tidak tergali dengan baik dan keragaman pola konsumsi pangan (pokok) terkikis dan mengarah terkonsentrasi hanya pada beras. Data menunjukkan, keberhasilan program intensifikasi padi di Jawa Timur, telah menjadikan propinsi ini menjadi pemasok beras yang utama untuk daerah-daerah lain di Indonesia. Pada tahun 1989, Jawa Timur telah mengekspor beras ke 19 dari 27 provinsi yang ada di Indonesia (Fox, James J, 1997).

Pendekatan ini pula yang menyebabkan rata-rata konsumsi beras per kapita sangat tinggi. Sampai saat ini konsumsi beras perkapita sekitar 135 kg/tahun dengan laju penurunan yang sangat lambat (Suryana, Achmad, tt). Upaya diversifikasi pangan yang telah dilaksanakan selama ini belum membuahkan hasil yang diinginkan, padahal Indonesia memiliki sumber-sumber karbohidrat yang sangat kaya, misalnya terdapat sekitar 157 spesies bahan pangan karbohidrat non biji yang belum termanfaatkan dengan baik (Tampubolon, 2002).

Bertitik tolak dari uraian di atas, maka perlu dilakukan upaya sosialisasi konsumsi pangan lokal yang lebih baik lagi. Selama ini sosialisasi yang dilakukan lebih banyak melalui kegiatan-kegiatan kampanye, lomba/pameran/gelar makanan di tingkat kabupaten/kota, provinsi, maupun pusat, dengan keterlibatan pihak instansi terkait. Upaya sosialisasi ini memiliki beberapa kelemahan, antara lain kurang komprehensif, sesaat, sehingga tidak bertahan lama dalam menanamkan pemahaman dan menumbuhkembangkan kesadaran masyarakat. Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur bahkan menggelar kegiatan-kegiatan serupa dua tiga kali dalam setahun, dengan keterlibatan instansi terkait, dinas pendidikan, dan juga industri; namun tetap memprihatinkan lambatnya hasil pemasyarakatan diversifikasi pangan tersebut. Sosialisasi lebih lanjut diperlukan agar upaya peningkatan ketahanan pangan dapat lebih berarti dan menjangkau masyarakat yang lebih luas dengan waktu yang relatif lebih singkat.

Sosialisasi lebih lanjut, yang selama ini belum pernah dilakukan, adalah melalui jalur pendidikan formal, khususnya sekolah dasar. Sekolah dasar, sebagai agen sosialisasi sekunder bagi peserta didik yang berusia muda memiliki peran yang strategis karena pada usia-usia tersebut masih sangat terbuka peluang untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma yang diharapkan akan lebih mudah tertanam serta bertahan lama. Relevan dengan pendapat Gardner (1999), melalui sekolah—dalam hal ini tentunya termasuk sekolah dasar—paling tidak aspek-aspek disiplin ilmu dapat diwariskan kepada anak sebagai bekal hidup di masyarakat. Harus disadari bahwa keberhasilan dan keterjaminan perwujudan ketahanan pangan memprasyaratkan kesadaran masyarakat Indonesia akan arti penting dan sentralnya ketahanan pangan bagi kehidupan masa kini dan masa mendatang. Kesadaran ini tidak mungkin tumbuh dan berkembang hanya dengan iklan-iklan, kampanye, pelatihan, pameran, dan lomba-lomba. Kesadaran ini harus ditumbuhkan dengan lebih komprehensif, mendasar, dan sistemik.

“Pendidikan tentang pangan” sudah mulai dikenalkan di SD kelas atas, namun masih belum berperspektif kepada “peningkatan ketahanan pangan”. Di beberapa mata pelajaran (misalnya IPA kelas V), pengenalan tentang pangan atau makanan, baru sebatas pada pemberian pengetahuan mengenai makanan itu sendiri, fungsinya di dalam tubuh, macam bahan pangan serta nutrisi yang dikandungnya. Namun mengenai bagaimana memilih makanan dengan memanfaatkan berbagai sumber bahan pangan, terutama pangan lokal (untuk diversifikasi pangan, yang merupakan salah satu aspek penting dalam ketahanan pangan), belum dikenalkan.

Selain itu, pengorganisasian pengetahuan tentang pangan tersebut masih terlalu menekankan pada pemerolehan pengetahuan, belum menyentuh aspek sikap serta kurang memberikan peluang pelibatan berbagai aktivitas anak dalam upaya memahami pangan. Pangan, dengan demikian hanya dipahami sebagai suatu pengetahuan, sebagaimana pelajaran lain pada umumnya, dan belum dipahami sebagai sesuatu yang merupakan kebutuhan yang sangat penting, yang harus bisa diupayakan sendiri, dengan memanfaatkan lingkungan, serta menggali potensi setiap orang untuk mengadakan dan mengelolanya, agar terhindar dari kelaparan, ketergantungan pada satu macam bahan pangan pokok (beras), dan mengembangkan keberdayaan masyarakat dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan.

C. Ruang Lingkup Ketahanan Pangan

Sistem ketahanan pangan meliputi tiga subsistem (Nindyowati, 2001), yaitu: (1) subsistem ketersediaan pangan, yang mencakup aspek produksi, cadangan pangan, serta keseimbangan sedemikian rupa sehungga pangan di tingkat masyarakat harus cukup jumlah dan jenisnya, serta stabil dalam penyediaan dari waktu ke waktu, (2) subsistem distribusi pangan, mencakup aspek keterjangkauan secara fisik dan ekonomis atas pangan secara merata. Keterjangkauan fisik maupun ekonomi diartikan kemampuan masyarakat dapat memperoleh pangan di semua lokasi dengan daya beli terjangkau, dan (3) subsistem konsumsi pangan, yang dalam kaitan ini diupayakan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat agar mempunyai pemahaman atas pangan, gizi, dan kesehatan yang baik sehingga dapat mengelola konsumsinya secara optimal. Konsumsi pangan hendaknya memperhatikan ketentuan-ketentuan zat pangan dan gizi yang cukup berimbang, sesuai dengan kebutuhan bagi pembentukan manusia yang sehat, kuat, cerdas dan produktif. Dalam subsustem konsumsi terdapat aspek penting lain, yaitu aspek diversifikasi. Diversifikasi pangan dimaksudkan untuk memperoleh keragaman zat gizi, sekaligus melepaskan ketergantungan masyarakat atas satu jenis pangan pokok tertrentu, yaitu beras (Nindyowati, 2001).

Dalam upaya mensosialisasikan pendidikan pangan di SD, subsistem ketahanan pangan yang paling memungkinkan untuk diajarkan pada siswa SD, adalah subsistem yang ketiga, yaitu konsumsi pangan, khususnya yang terkait dengan diversifikasi (penganekaragaman) pangan. Pendidikan ketahanan pangan, sebagaimana telah dikemukakan, dimaksudkan agar pangan dipahami sebagai sesuatu yang merupakan kebutuhan yang sangat penting, yang harus bisa diupayakan sendiri, dengan memanfaatkan lingkungan, serta menggali potensi setiap orang untuk mengadakan dan mengelolanya, agar terhindar dari kelaparan, ketergantungan pada satu macam bahan pangan pokok (beras), dan mengembangkan keberdayaan masyarakat dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan.

Dalam tujuan tersebut terkandung makna bahwa anak sejak usia dini seharusnya telah dibangkitkan kesadaran dan tanggung jawabnya akan pentingnya pangan, dan mengupayakan berbagai usaha yang efektif dan produktif untuk meningkatkan ketahanan pangan. Permasalahan-permasalahan yang terkait dengan pangan adalah bagian dari masalah kehidupan mereka. Memahami serta melakukan aktivitas memilih, mengadakan, dan mengkonsumsi makanan dengan beragam alternatif bahan pangan—misalnya bahan pangan lokal nonberas–merupakan salah satu bentuk kontribusi mereka untuk turut mengatasi masalah ketahanan pangan. Kontribusi ini harus dihargai sebagai sesuatu yang berarti, serta didorong terus-menerus untuk selalu berupaya meningkatkan kontribusi itu, sehingga setiap anak layak disebut sebagai warga negara yang bertanggung jawab (responsible citizen).

Selanjutnya oleh karena aspek konsumsi pangan tidak hanya menyangkut peserta didiknya saja, namun juga melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat, maka hal-hal tersebut juga akan menjadi perhatian dalam penelitian ini. Menurut Suhardjo (1989), faktor yang mempengaruhi ketahanan pangan di tingkat rumah tangga dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu: (1) faktor ketersediaan pangan, (2) faktor daya beli, dan (3) faktor pengetahuan pangan dan gizi. Ketersediaan pangan berkaitan erat dengan sumber daya, pendapatan, dan sistem pasar setempat. Faktor daya beli berkaitan erat dengan tingkat pendapatan keluarga. Tingkat pendapatan menentukan pola makanan yang akan dibeli. Semakin tinggi pendapatan, semakin bertambah besar pengeluaran untuk pangan, termasuk buah-buahan, sayuran, dan jenis makanan lainnya. Faktor pengetahuan pangan dan gizi seseorang akan mempengaruhi sikap dan perilakunya terhadap makanan. Semakin tinggi pengetahuan pangan dan gizi seseorang akan semakin baik sikap dan perilakunya terhadap makanan. Hal ini ditunjukkan dengan cara memilih dan mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi.

Penelitian tentang faktor determinan perilaku makan murid sekolah dasar di Kodya Malang oleh Devi, Mazarina dkk (1998) serta penelitian perilaku konsumsi makanan tradisional keluarga murid taman kanan-kanak (Devi, Mazarina, 1997) memperoleh temuan bahwa faktor pembentuk perilaku makan adalah lingkungan keluarga (pengetahuan dan sikap ibu, pendapatan keluarga, kebiasaan makan, dan media massa) serta lingkungan sekolah (pengetahuan dan sikap guru, serta pengaruh kelompok bermain). Hasil penelitian ini akan menjadi masukan penting dan menjadi pertimbangan dalam mengembangkan perangkat pembelajaran ketahanan pangan, agar memenuhi aspek relative advantage, compatibility, complexity, trialability, dan observability.

Di dalam pengembangan perangkat pembelajaran pendidikan ketahanan pangan secara terintegrasi di SD di dalam penelitian ini, faktor kondisi/potensi keluarga, sekolah, dan masyarakat, akan menjadi pertimbangan penting, agar perangkat pembelajaran tersebut memiliki manfaat yang tinggi, cocok untuk kelompok sasaran yang dituju, mudah diterapkan (tidak rumit), serta mudah diujicobakan dan diamati.

D. Implikasi ITI dalam Pembelajaran Pendidikan Ketahanan Pangan

Sistem ketahanan pangan meliputi tiga subsistem (Nindyowati, 2001), yaitu: (1) subsistem ketersediaan pangan, yang mencakup aspek produksi, cadangan pangan, serta keseimbangan sedemikian rupa sehungga pangan di tingkat masyarakat harus cukup jumlah dan jenisnya, serta stabil dalam penyediaan dari waktu ke waktu, (2) subsistem distribusi pangan, mencakup aspek keterjangkauan secara fisik dan ekonomis atas pangan secara merata. Keterjangkauan fisik maupun ekonomi diartikan kemampuan masyarakat dapat memperoleh pangan di semua lokasi dengan daya beli terjangkau, dan (3) subsistem konsumsi pangan, yang dalam kaitan ini diupayakan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat agar mempunyai pemahaman atas pangan, gizi, dan kesehatan yang baik sehingga dapat mengelola konsumsinya secara optimal. Konsumsi pangan hendaknya memperhatikan ketentuan-ketentuan zat pangan dan gizi yang cukup berimbang, sesuai dengan kebutuhan bagi pembentukan manusia yang sehat, kuat, cerdas dan produktif. Dalam subsustem konsumsi terdapat aspek penting lain, yaitu aspek diversifikasi. Diversifikasi pangan dimaksudkan untuk memperoleh keragaman zat gizi, sekaligus melepaskan ketergantungan masyarakat atas satu jenis pangan pokok tertrentu, yaitu beras (Nindyowati, 2001).

Dalam upaya mensosialisasikan pendidikan pangan di SD, subsistem ketahanan pangan yang paling memungkinkan untuk diajarkan pada siswa SD, adalah subsistem yang ketiga, yaitu konsumsi pangan, khususnya yang terkait dengan diversifikasi (penganekaragaman) pangan. Model pembelajaran ITI sangat tepat untuk kepentingan ini dilihat dari tujuan dan prinsip pengajarannya. Penekanan model ITI, yaitu untuk menghasilkan responsible citizenship, sangat relevan dengan tujuan pembelajaran pendidikan ketahanan pangan di sekolah, khususnya SD. Pendidikan ketahanan pangan, sebagaimana telah dikemukakan, dimaksudkan agar pangan dipahami sebagai sesuatu yang merupakan kebutuhan yang sangat penting, yang harus bisa diupayakan sendiri, dengan memanfaatkan lingkungan, serta menggali potensi setiap orang untuk mengadakan dan mengelolanya, agar terhindar dari kelaparan, ketergantungan pada satu macam bahan pangan pokok (beras), dan mengembangkan keberdayaan masyarakat dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan.

Dalam tujuan tersebut terkandung makna bahwa anak sejak usia dini seharusnya telah dibangkitkan kesadaran dan tanggung jawabnya akan pentingnya pangan, dan mengupayakan berbagai usaha yang efektif dan produktif untuk meningkatkan ketahanan pangan. Permasalahan-permasalahan yang terkait dengan pangan adalah bagian dari masalah kehidupan mereka. Memahami serta melakukan aktivitas memilih, mengadakan, dan mengkonsumsi makanan dengan beragam alternatif bahan pangan—misalnya bahan pangan lokal nonberas–merupakan salah satu bentuk kontribusi mereka untuk turut mengatasi masalah ketahanan pangan. Kontribusi ini harus dihargai sebagai sesuatu yang berarti, serta didorong terus-menerus untuk selalu berupaya meningkatkan kontribusi itu, sehingga setiap anak layak disebut sebagai warga negara yang bertanggung jawab (responsible citizen).

Model ITI merancang pembelajaran dengan latar dan objek yang ada di sekitar anak, di kelas, di lingkungan masyarakat yang ditempatinya. Anak bisa dikenalkan dengan berbagai masalah pangan yang dekat dengan kehidupan mereka, sesuai dengan tahap perkembangan anak. Misalnya, ditunjukkan areal persawahan yang semakin lama semakin berkurang karena orang mendirikan rumah-rumah di atasnya, pabrik-pabrik yang memanfaatkan lahan kosong yang semula kebun atau hutan, sungai yang kotor, sampah di mana-mana, dan sebaginya; masalah apapun yang akrab dengan kehidupan anak dapat diangkat sebagai awal pembelajaran ketahanan pangan dengan model ITI. Selain itu, potensi wilayah sekitar yang kaya akan umbi-umbian, kacang-kacangan, hasil laut, dan sebagainya, juga seharusnya dieksplorasi. Dalam tahap ini, akan terjadi proses pengkonstruksian pengetahuan di benak anak, berdasarkan pada informasi dan pengalaman awal yang telah dimilikinya itu. Tahap selanjutnya, guru bersama anak-anak melakukan identifikasi kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan, baik dalam kelas (misalnya dalam bentuk belajar secara kooperatif atau problem solving), maupun di luar kelas (misalnya dengan field trip), serta pendalaman dari pengalaman-pengalaman belajar tersebut (immersion), contohnya dalam bentuk role play atau simulasi. Dengan melakukan aktivitas-aktivitas tersebut, maka anak akan berkembang dalam hal kapasitas konseptualnya, bahasanya, serta keterampilan untuk penerapan apa yang telah di pelajarinya itu dalam konteks kehidupan nyata.

Proses di atas relevan dengan sekuen model pembelajaran ITI, yaitu:

BEING THERE ? CONCEPT ? LANGUAGE ?

APPLICATION TO THE REAL WORLD

Gambar 2: Sekuen Pembelajaran dengan ITI (sumber: Kovalik dan McGeehan,1999: h. 386).

Berdasarkan sekuen tersebut tampak bahwa kurikulum ITI dimulai dengan dunia nyata, yaitu lokasi atau peristiwa yang dekat di mana siswa dapat mengalaminya langsung. Titik awal ini menawarkan keuntungan yang berarti dari sudut biologi belajar. Otak manusia dirancang untuk mendapatkan pemahaman atas informasi yang datang. Pengenalan pola dan pengembangan konseptual didasarkan pada input sensori. Dalam lingkungan yang kaya, misalnya pada sawah, kebun, pabrik, pasar, dan sebagainya, bodybrain memberikan perhatian dan menyerap latar itu. Di luar setiap pengalaman tersebut pada siswa muncul kapasitas konseptual, pengembangan bahasa, dan kemungkinan untuk penerapannya.

Enam bodybrain basics dan delapan bodybrain compatible dalam model ITI harus benar-benar diperhatikan oleh sekolah atau guru dalam pembelajaran pendidikan ketahanan pangan. Dua aspek itu sangat penting untuk mengupayakan agar belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak Penerapan kedua prinsip di atas berimplikasi pada dihargainya perbedaan anak, diberikan pada mereka pilihan-pilihan, lingkungan yang sehat dan mengundang, saling berinteraksi, serta memperoleh dorongan dan penguatan untuk setiap kerja mereka. Semuanya ini akan bermuara pada kemajuan belajar anak, meningkatnya pengetahuan dan kesadaran mereka akan pentingnya ketahanan pangan secara bermakna, serta dimilikinya motivasi untuk melakukan tindakan nyata agar dapat turut mengambil bagian dalam upaya mengatasi persoalan tersebut, sebagai wujud kontribusi mereka sebagai warga negara yang bertanggung jawab.

E. Penutup

Mengacu pada uraian di atas, tampaklah bahwa pendidikan pangan penting diberikan sejak dini, setidaknya sejak anak usia SD. Berbagai model pembelajaran dapat diterapkan dalam upaya memahamkan pendidikan ketahanan pangan pada anak, salah satunya adalah model ITI (Integrated Thematic Instruction). Sejalan dengan Kurikulum 2004, di mana pada SD kelas rendah mata pelajaran diberikan secara terpadu (pembelajaran tematik), maka penerapan ITI merupakan salah satu alternatif yang relevan untuk lebih meperkaya khasanah pembelajaran terpadu.


DAFTAR PUSTAKA

Borich, Gary D. 1994. Observation Skills for Effective Teaching. Englewood Cliffs: Merril Publishers.

Buechler, M. 1993. Connecting learning assures successful students: a study of the CLASS program. Bloomington, IN: Indiana Education Policy Center. http://www.kovalik.com.

Devi, Mazarina. 1997. “Perilaku Konsumsi Makanan Tradisional Keluarga Murid Taman Kanak-Kanak”. Dalam Jurnal Ilmu Pendidikan IKIP Malang. Vol. 4 Edisi Tahun II.

Devi, Mazarina; Astra Vrani, Anti; Aini, Nurul; dan Endah, Nur. 1998. Faktor Determinan Perilaku Makan Murid Sekolah Dasar di Kodya Malang. Laporan Penelitian. Lembaga Penelitian Universitas Negeri Malang.

Grisham, D.L. 1995, April. Integrating the curriculum: The case of an award-winning elementary school. Paper presented at the annual meeting of the American Educational Research Association, Berkeley, CA. http://www.kovalik.com.

Dick, Howard, Fox, James J., dan Mackie, Jamie (Editor). 1997. Pembangunan yang Berimbang, Jawa Timur dalam Era Orde Baru. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Jalal, Fasri dan Supriadi, Dedi (Editor). 2001. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.

Joni, T. Raka. 1996. Pembelajaran terpadu. Naskah Program Pelatihan Guru Pamong, BP3GSD PPTG Ditjen Dikti, 1996.

Kovalik, Susan J. dan Jane R. McGeehan. 1999. Integrated thematic instruction: from brain research to application. Instructional-Design Theories and Models. II. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publishers. 371-396

Kovalik, Susan J. dan Karen Olsen. 1994. ITI: The model integrated thematic instructuon. Susan Kovalik and Assocuates. Kent. W.A.

Morgan, W. 1998. The impact of CLAS on teaching and learning in Indiana. Bloomington, IN: Indiana University. http://www.kovalik.com.

Nindyowati, E. 2001. “Kebijakan dan Program Pembangunan dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan”. Dalam Prosiding Seminar Nasional Makanan Tradisional Potensi dan Prospek Makanan Tradisional dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan. Unesa University Press, Universitas Negeri Surabaya.

Nindyowati, E. 2002. “Kebijakan Pemerintah dalam Pengembangan dan Sosialisasi Pangan Lokal”. Dalam Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Hasil-hasil Penelitian Makanan Tradisional Pengembangan dan Sosialisasi Pangan Lokal. Unesa University Press, Universitas Negeri Surabaya.

Perkins, D. 1995. Outsmarting IQ: The emerging science of learnable intelligence. New York: The Free Press.

Ruth, N.S. 1998. A comparative study of Integrated Thematic Instruction (ITI) and non-integrated thematic instruction. Doctoral dissertation, Texas A&M University. http://www.kovalik.com.

Slavin, Robert E. 2000. Educational psychology: Theory and practice. Sixt Edition. Boston: Allyn and Bacon.

Suhardjo. 1989. Pengembangan Konsumsi Pangan dan Gizi Indonesia. Makalah dalam Seminar Upaya Perbaikan Konsumsi Pangan dan Gizi Masyarakat Menyongsong Era Tinggal Landas. Bogor: PAU Pangan dan Gizi.

Suryana, Achmad. Tt. Kebijakan Nasional Pemantapan Ketahanan Pangan. Badan Bimas Ketahanan Pangan Departemen Pertanian.

Tampubolon, SMH. 2002. Suara dari Bogor Sistem dan Usaha Agribisnis Kacamata Sang Pemikir. Pusat Studi Pembangunan IPB dan USESE Foundation.

Tim Universitas Brawijaya Malang. 2001. Kajian Pangan Olahan Pengganti Beras. Laporan Penelitian kerjasama antara Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang dan Badan Ketahanan Pangan Jawa Timur. Tidak diterbitkan.

Veneman, Ann M. 2002. The U.S. contribution to global agriculture and food security. Economic Perspective. Mei 2002.

Wilson, Brent G. 1996. Constructivist learning environtment. USA: Educational Technology Publications.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: