Luthfiyah Nurlaela’s Blog

February 20, 2009

Pembelajaran Terpadu

Filed under: Uncategorized — luthfiyahnurlaela @ 9:17 am

PEMBELAJARAN TERPADU (INTEGRATED LEARNING) Luthfiyah Nurlaela

img0065a1

A. Pendahuluan Pembelajaran terpadu (integrated learning) pada saat ini kembali banyak dibicarakan dalam berbagai forum, khususnya terkait dengan impelementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan KTSP di sekolah dasar. Pada kelas 1, 2 dan 3 SD, pelajaran disampaikan dengan menerapkan pembelajaran terpadu, yang didasarkan pada tema-tema. Karena didasarkan pada tema-tema, maka model pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran tematik.
Berkaitan dengan hal tersebut, pembelajaran terpadu kemudian dipahami identik dengan pembelajaran yang berbasis pada tema (pembelajaran tematik). Apakah benar pendapat tersebut? Apakah pembelajaran tematik harus selalu dimulai dengan tema-tema yang digali dan dikembangkan oleh guru bersama siswa?
Makalah ini mengemukakan kajian mengenai pembelajaran terpadu, yang dirangkum dari berbagai sumber, sebagai tambahan referensi mengenai pembelajaran terpadu.

B. Ragam Pembelajaran Terpadu
Menurut Forgaty (1991), ada sepuluh model kurikulum yang bergerak dari kurikulum yang sangat berorientasi pada mata pelajaran yang terpotong-potong hingga model pembelajaran terpadu. Kesepuluh model tersebut tergabung dalam tiga klasifikasi, yaitu: (1) model pembelajaran terpadu dalam beberapa mata pelajaran yang terpisah, (2) model pembelajaran terpadu di dalam lintas beberapa mata pelajaran, dan (3) model pembelajaran terpadu di dalam lintas peserta didik.

1. Model pembelajaran terpadu dalam beberapa mata pelajaran yang terpisah
Dalam klasifikasi ini, terdapat 3 model pembelajaran yang bergerak dari pembelajaran yang klasikal, yaitu pembelajaran yang pada umumnya dilakukan guru dengan memberikan materi pelajaran secara terpisah-pisah dan tidak berhubungan sama sekali , hingga model pembelajaran yang penyampaian materinya masih secara terpisah-pisah namun sudah menampakkan kegandaan dalam hal target pembelajaran yang ingin dicapai. Model-model tersebut meliputi:
a. Model fragmented
Pada model ini, kurikulum diatur secara tradisional yang memunculkan mata pelajaran yang berbeda dan terpisah. Pada umunya meliputi empat bidang akademis besar yaitu: Matematika, Sains, Bahasa, Seni dan Ilmu Sosial. Pengelompokkan yang lain dari disiplin tersebut menggunakan kategori Imu Sastra, Sains, Seni Praktis, dan Seni Murni. Dalam kurikulum standar, bidang studi ini diajarkan secara sendiri-sendiri, tidak ada usaha untuk menghubungkan atau memadukannya. Setiap bidang studi tampak sebagai suatu kesatuan dalam bidang studi itu sendiri. Ketika mungkin terdapat tumpang tindih dalam ilmu fisika dan kimia, hubungan antara keduanya adalah implisit, tidak eksplisit, yang didekati melalui kurikulum (Forgaty, 1991).

Dengan demikian, dalam model ini, setiap mata pelajaran disampaikan secara terpisah-pisah dengan waktunya sendiri-sendiri. Misalnya, pada saat jam mata pelajaran Bahasa Indonesia, guru menyampaikan materi bahasa Indonesia. Pada jam pelajaran Matematika, guru hanya menyampaikan materi Matematika.
Salah satu keuntungan model ini tentu saja adalah kemurnian dari setiap disiplin sangat tampak. Selain itu, guru dapat membuat persiapan dalam suatu bidang dengan menggali subjek tersebut secara sangat luas dan mendalam. Model tradisional ini memberikan wawasan yang jelas dan diskrit untuk setiap disiplin. Guru dapat dengan mudah menentukan prioritas dari bidang-bidang studinya.
Sedangkan kekurangan model fragmented ini meliputi dua hal. Pebelajar kehilangan sumber-sumbernya sendiri untuk membuat hubungan atau memadukan konsep-konsep yang mirip. Selain itu, konsep-konsep, keterampilan-keterampilan, dan sikap-sikap yang tumpang tindih, tidak diperjelas bagi pebelajar dan transfer of learning pada situasi yang baru hampir tidak terjadi.
Model fragmented ini bermanfaat untuk kelas yang besar dengan populasi yang luas di mana variasi perkualiahan memberikan spektrum subjek yang dapat memenuhi minat-minat khusus. Model ini paling tepat diterapkan di tingkat universitas yang mana mahasiswa mengambil jalur studi khusus yang memerlukan pengetahuan tinggi untuk penginstruksian, pendampingan, pelatihan, dan kerja sama. Model ini juga bermanfaat bagi guru, yang dapat membuat persiapan dengan lebih terfokus. Juga merupakan model yang baik bagi guru yang ingin membuat prioritas kurikuler sebelum menggunakan model lintas disiplin untuk membuat perencanaan yang interdisipliner.

b. Model Connected
Model kurikuler ini memfokuskan pada pembuatan hubungan yang eksplisit dalam setiap bidang subjek, menghubungkan satu topik dengan topik selanjutnya; menghubungkan satu konsep dengan konsep yang lain; menghubungkan suatu keterampilan dengan keterampilan terkait; menghubungkan satu kegiatan dalam sehari dengan kegiatan hari berikutnya, atau bahkan ide-ide satu semester ke semester berikutnya. Kunci dari model ini ada usaha yang dengan sengaja untuk menghubungkan kurikulum dalam suatu disiplin, dan tidak mengasumsikan siswa akan memahami hubungan-hubungan tersebut secara otomatis.

Model terkait/keterhubungan ini masih berpusat pada masing-masing mata pelajaran, tetapi materi suatu pelajaran tersebut dihubungkan dengan topik ke topik, atau suatu konsep dengan konsep lainnya. Model terkait ini merupakan model yang cukup sederhana, sehingga dapat lebih mudah dilaksanakan di tingkat SD. Misalnya, pada mata pelajaran PPKn, guru menghubungkan topik keimanan dan kesederhanaan.
Dengan menghubungkan ide-ide dalam suatu disiplin, pebelajar memiliki keuntungan memperoleh gambaran sekaligus fokus studi dari satu aspek. Selain itu, konsep-konsep kunci dikembangkan sepanjang waktu untuk internalisasi oleh pebelajar. Menghubungkan ide-ide dalam suatu disiplin memberi peluang pada pebelajar untuk melakukan kajian, merekonseptualisasikan, menyunting, dan mengasimilasikan ide-ide secara bertahap dan memfasilitasi transfer belajar.
Kekurangan model ini adalah, beragam disiplin dalam model ini tetap terpisah dan tidak berhubungan, meskipun hubungan-hubungan dibuat eksplisit dalam disiplin tertentu. Guru tidak terdorong untuk bekerja bersama, sehingga isi tetap terfokus tanpa menekankan konsep-konsep dan ide-ide lintas disiplin yang lain. Usaha-usaha dikonsentrasikan untuk memadukan dalam sebuah disiplin, dan melupakan kesempatan untuk mengembangkan hubungan yang lebih global dengan subjek yang lain.
Model connected bermanfaat sebagai langkah awal menuju kurikulum terintegrasi. Guru memiliki kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan dalam disiplinnya sendiri, dan hal ini memudahkan mereka untuk membuat hubungan-hubungan lintas disiplin.

c. Model Nested
Model terintegrasi ini merupakan model yang kaya desain yang digunakan oleh guru yang terlatih. Mereka tahu bagaimana mengetahui jarak terjauh dari latihan—latihan apapun. Namun, dalam model nested ini, perencanaan yang hati-hati diperlukan untuk membentuk target ganda bagi kombinasi yang alami sehingga tugas-tugas tampak mudah dan menyenangkan.

Dalam model ini, guru tetap memberikan materi dalam mata pelajarannya, tetapi sudah mempunyai target multi keterampilan sebagai tujuan pembelajaran yang harus dimiliki siswa. Misalnya, guru yang merancang memberikan suatu pokok bahasan tentang kegunaan panca indera, juga sudah mentargetkan bagi siswa agar dapat mencapai beberapa keterampilan sekaligus dalam bidang keterampilan berbahasa seperti keterampilan mendengarkan; dalam bidang keterampilan berfikir seperti keterampilan mengurutkan, dan sebagainya.
Dengan mengumpulkan (nesting) dan mengelompokkan (clustering) sejumlah tujuan dalam pengalaman belajar, belajar siswa diperkaya dan ditingkatkan. Biasanya, pemusatan pada isi, strategi berfikir, keterampilan sosial, dan ide-ide yang secara tak sengaja juga ditemukan. Pada hari-hari yang terlalu padat, kurikulum yang menumpuk, serta jadwal yang ketat, guru yang berpengalaman dapat mencari latihan-latihan yang tepat yang dapat menjadi kegiatan belajar dalam bidang yang beragam. Model nested memberikan perhatian yang dibutuhkan untuk beberapa bidang pada waktu yang bersamaan, dan tidak membutuhkan beban waktu tambahan untuk bekerja dan merencanakan dengan guru yang lain. Dengan model ini, seorang guru secara mandiri dapat memberikan integrasi kurikulum yang luas.
Kekurangan model nested ini muncul dari kealamiahannya. Dengan mengumpulkan dua, tiga, atau empat target belajar dalam satu latihan mungkin membingunkan siswa jika pengumpulan ini tidak dilakukan secara hati-hati. Prioritas konseptual dari latihan mungkin menjadi tidak jelas karena siswa diarahkan untuk melakukan banyak tugas belajar pada waktu yang bersamaan.
Model nested ini sangat cocok digunakan guru yang mencoba menanamkan keterampilan berpikir dan keterampilan kooperatif dalam latihan-latihan mereka. Menjaga tujuan isi tetap pada tempatnya, sementara menambahkan fokus berpikir dan keterampilan sosial, akan meningkatkan pengalaman belajar secara keseluruhan.

2. Model pembelajaran terpadu di dalam lintas beberapa mata pelajaran
Pada klasifikasi ini, terdapat lima model pembelajaran yang bergerak dari yang agak sederhana hingga yang rumit dalam lebih dari satu mata pelajaran. Salah satu model, yaitu model terjala (webbed model) sering diartikan sebagai pendekatan tema. Kelima model tersebut adalah sebagai berikut.

a. Model sequenced
Dengan artikulasi yang terbatas lintas disiplin, guru dapat mengatur kembali urutan topik sehingga unit-unit yang mirip bersinggungan dengan yang lainnya. Dua disiplin terkait dapat diurutkan sehingga isi bidang studi dari keduanya dapat diajarkan secara pararel. Dengan melakukan pengurutan di mana topik-topik diajarkan, aktivitas yang satu meningkatkan yang lain.

Beberapa topik diatur ulang serta diurutkan agar dapat serupa satu sama lain. Artinya, beberapa konsep yang hampir sama diajarkan secara bersamaan, sementara salah satu konsep tersebut tetap diajarkan dalam mata pelajaran terpisah. Misalnya, seorang guru Bahasa Indonesia membahas tentang novel berlatar belakang sejarah perjuangan yang menggambarkan suatu masa di jaman lampau, sementara guru Sejarah mengajarkan juga masa perjuangan yang sama di jaman lampau yang dibahas guru Bahasa Indonesia.
Dengan mengatur urutan topik, bab, dan unit, guru dapat membuat prioritas kurikuler, tidak sekedar mengikuti urutan yang sudah dibuat oleh buku teks. Dengan cara ini, guru-guru dapat membuat keputusan kritis mengenai isi. Dari sisi siswa, pengurutan yang sengaja dari topik-topik yang terkait dari disiplin-disiplin membantu mereka membuat pemahaman. Pengintegrasian ini membantu transfer belajar.
Kekurangan model sequenced adalah kompromi yang dibutuhkan untuk membentuk model. Guru-guru harus memiliki otonomi dalam membuat urutan kurikulum. Juga, untuk membuat urutan sesuai dengan kejadian-kejadian yang terakhir membutuhkan kolaborasi dan fleksibilitas dari semua orang yang terlibat. Hal ini tidaklah mudah.
Model sequenced ini berguna pada tahap awal proses integrasi, yang menggunakan dua bidang disiplin yang secara mudah dikaitkan dengan yang lainnya. Guru, bekerja dengan seorang partner, mulai membuat daftar isi kurikuler secara terpisah. Kemudian, tim ini mencoba untuk menyulap potongan-potongan isi yang terpisah sampai keduanya dapat “match up”. Mereka mencoba untuk menyamakan isi kurikulum yang berbeda guna membuat pemahaman yang lebih baik bagi siswa yang belajar dari keduanya. Pada model ini, kedua disiplin tetap murni. Penekanan khusus tetap pada domain bidang studi, tetapi siswa mendapat keuntungan dari isi yang terkait.

b. Model Shared
Disiplin tertentu yang luas memunculkan payung kurikuler yang meliputi: Matematikan dan Sains berpasangan sebagai Sains; Kesusastraan dan Sejarah di bawah label Ilmu Sastra; Seni, Musik, Tari, dan Drama digabungkan menjadi Seni Murni; Teknologi Komputer, Seni Rumah Tangga dan Industri sebagai Seni Praktis. Dalam disiplin yang komplementer tersebut, perencanaan partner dan atau pengajaran memfokuskan pada konsep, keterampilan, dan sikap, yang berbagi (shared).

Dua mata pelajaran yang sama-sama diajarkan dengan menggunakan konsep-konsep atau keterampilan-keterampilan yang tumpang tindih. Misalnya, guru IPA dan Matematikan bersama-sama secara tim, menggunakan suatu data yang sama bisa berupa grafik, gambar, atau tabel untuk membahas suatu konsep yang tumpang tindih.
Keuntungan dari model perencanaan kurikulum secara berbagi ini terletak pada kemudahan penggunaannya sebagai langkah awal menuju model yang lebih terintegrasi yang meliputi empat disiplin. Dengan memasangkan disiplin-disiplin yang mirip, tumpang tindih memfasilitasi belajar konsep untuk transfer belajar. Dengan kata lain, lebih mudah menjadwalkan periode perencanaan umum untuk tim yang terdiri dari dua orang guru daripada menyulap penjadwalan untuk tim dengan empat orang guru. Selain itu, perencanaan seringkali menyebabkan pembagian pengalaman belajar seperti film dan field trip, karena dua orang guru dapat meletakkan tugas keduanya bersama-sama untuk memunculkan blok waktu yang lebih luas.
Kendala untuk berbagi kurikulum adalah perencanaan waktu yang diperlukan untuk mengembangkan model. Selain waktu, fleksibilitas dan kompromi adalah penting untuk keberhasilan implementasi—hal ini memerlukan kepercayaan dan kerja tim. Model integrasi lintas dua disiplin ini memerlukan komitmen dari pasangan (partner) untuk bekerja melalui fase awal. Untuk mendapatkan tumpang tindih yang sebenarnya dalam konsep-konsep kurikulum memerlukan dialog dan pembicaraan mendalam.
Model shared ini cocok ketika bidang studi-bidang studi dikelompokkan dalam kelompok besar seperti Ilmu Sastra atau Seni Praktis. Model ini juga memfasilitasi langkah awal implementasi menuju kurikulum terpadu. Model ini merupakan model yang aktif untuk menggunakan dua disiplin sebagai tahap intermediate menuju tim dengan empat disiplin yang jauh lebih rumit dan kompleks.

c. Model Webbed
Kurikulum model webbed (terjaring/teranyam) menyajikan pendekatan tematik untuk memadukan mata pelajaran. Biasanya, pendekatan tematik pada pengembangan kurikulum ini mulai dengan sebuah tema misalnya “transportasi” atau “penemuan”. Suatu tim lintas disiplin membuat keputusan mengenai tema apa yang akan digunakan sebagai dasar untuk melaksanakan pembelajaran berbagai mata pelajaran. Misalnya, “penemuan” dapat digunakan untuk mempelajari mesin-mesin sederhana dalam mata pelajaran Sains; membaca dan menulis mengenai penemu dalam mata pelajaran Bahasa; perancangan model dalam Seni Industri, dan sebagainya. Dalam pembuatan jaringan kurikulum yang lebih canggih, beberapa unit pelajaran dapat dikembangkan untuk diintegrasikan dalam semua bidang yang relevan.

Model ini seringkali disebut sebagai model terjala. Model ini berangkat dari tema yang dibangun bersama-sama antara guru dengan siswa, atas dasar beberapa topic pada beberapa mata pelajaran yang berhubungan. Misalnya, guru dan siswa sepakat memilih tema “Keluargaku” untuk memulai mengikat atau memadukan beberapa mata pelajaran seperti IPS, Bahasa Indonesia, dan Matematika.
Keuntungan dari pendekatan webbed untuk mengitegrasikan kurikulum ini adalah faktor motivasional yang menghasilkan pemilihan tema berdasarkan minat yang tinggi. Selain itu, model webbed atau pendekatan penulisan unit (unit writing approach) merupakan pendekatan yang familiar untuk guru berpengalaman dan merupakan model perencanaan kurikulum yang agak jelas bagi guru yang kurang berpengalaman untuk memahami. Dia juga menfasilitasi perencanaan kerja tim sebagai tim lintas disiplin untuk merangkaikan sebuah tema ke dalam semua bidang isi. Pendekatan tematik atau model webbed menyediakan payung motivasional dan jelas bagi siswa. Hal ini mudah bagi mereka untuk melihat bagaimana aktivitas-aktivitas dan ide-ide yang berbeda dihubungkan.
Sedangkan kekurangan model ini adalah, kesulitan dalam pemilihan tema. Ada kecenderungan mengambil tema-tema yang dangkal yang kurang berguna dalam perencanaan kurikulum. Seringkali tema-tema yang dangkal tersebut memandu penyusunan kurikulum. Juga, perhatian harus digunakan untuk tidak mengorbankan logika dan ruang lingkup yang diperlukan dan urutan yang melekat dalam disiplin tersebut. Dalam model ini, guru dapat mengalami kemacetan dalam penulisan. Juga, guru dapat menjadi terfokus pada aktivitas daripada pengembangan konsep-konsep, sehingga perhatian harus diberikan untuk menjaga isi tetap relevan dan tepat.
Model webbed untuk mengintegrasikan kurikulum adalah pendekatan tim yang memerlukan waktu untuk mengembangkannya. Model tersebut membutuhkan perencanaan yang luas dan koordinasi di antara disiplin yang berbeda dan bidang studi-bidang studi khusus.

d. Model Threaded
Keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan belajar, pengorganisasian gambar, teknologi, dan pendekatan kecerdasan multiple dalam belajar berurutan melalui semua disiplin. Model threaded dalam integrasi kurikulum memfokuskan pada metakurikulum dan menggantikan atau memotong isi mata pelajaran. Contohnya, membuat prediksi adalah keterampilan yang digunakan untuk mengestimasi dalam matematika, peramalan (forecast) dalam kejadian-kejadian yang terakhir, pengantisipasian dalam novel, dan pembuatan hipotesis dalam lab sains. Strategi pencapaian konsensus (consensus-seeking strategies) digunakan dalam menyelesaikan konflik dalam situasi pemecahan masalah apapun. Keterampilan-keterampilan ini diurutkan melalui isi kurikuler standar.

Keuntungan dari model threaded adalah memutar sekitar konsep metakurikulum. Metakurikulum tersebut adalah pemahaman dan pengontrolan keterampilan dan strategi berfikir dan belajar yang melebihi isi mata pelajaran. Guru menekankan perilaku metakognisi sehingga siswa belajar mengenai bagaimana mereka belajar. Dengan membuat siswa menyadari proses belajar, transfer selanjutnya difasilitasi. Nilai tambah dari model integrasi ini tidak hanya isi tetap murni untuk setiap disiplin, namun siswa memperoleh manfaat tambahan dari berbagai jenis keterampilan berpikir yang dapat ditransfer menjadi kecakapan hidup.
Kekurangan dari model ini adalah kebutuhan untuk menambahkan kurikulum “yang lain”. Isi yang berhubungan lintas mata pelajaran tidak ditunjukkan secara eksplisit. Permukaan metakurikulum, kecuali disiplin tetap statis. Hubungan di antara dan antar isi mata pelajaran tidak ditekankan.
Model threaded digunakan untuk mengintegrasikan kurikulum ketika metakurikulum menjadi fokusnya. Model ini cocok digunakan sebagai salah satu langkah alternatih menuju integrasi mata pelajaran yang lebih intensif. Model tersebut merupakan model yang aktif untuk yang mendorong guru menjaga isi pelajaran tetap utuh, dan memasukkan keterampilan berfikir, bekerja sama, dan kecerdasan multiple dalam isi mata pelajarannya.
Pada model ini, pendekatan metakurikuler digunakan untuk mencapai beberapa keterampilan dan tingkatan logika para siswa dengan berbagai mata pelajaran. Misalnya, guru mempunyai target untuk membuat prediksi dalam percobaan di laboratorium Matematika, IPA, Bahasa, yang pada saat bersamaan, guru IPS mempunyai target dalam peramalan kejadian-kejadian saat ini, di mana keseluruhan kegiatan tersebut membentuk suatu untaian keterampilan (membuat ramalan) yang bersumber dari lintas berbagai mata pelajaran.

e. Model Integrated
Model kurikulum terintegrasi (terpadu) menyajikan pendekatan lintas disiplin mirip dengan model shared. Model terpadu memadukan empat disiplin mayor dengan mengatur prioritas kurikuler dalam setiap disiplin, dan menentukan keterampilan-keterampilan, konsep-konsep, dan sikap-sikap yang tumpang tindih dalam semua disiplin tersebut. Sebagaimana di dalam model shared, perpaduan merupakan hasil dari penyaringan ide-ide isi mata pelajaran, tidak berdasarkan pada suatu ide/tema sebagaimana seperti dalam model webbed. Keempat anggota tim menggali prioritas dan konsep-konsep yang tumpang tindih. Model ini sangat baik diterapkan dalam matematika, sain, seni bahasa, dan ilmu sosial.
Keuntungan model terpadu ini adalah kemudahan dimana siswa dipandu menuju saling keterkaitan dan keterhubungan antar berbagai disiplin. Model terpadu membangun pemahaman lintas departemen dan mengembangkan apresiasi pengetahuan dan keahlian guru. Model terpadu, bila diimplementasikan dengan baik, mendekati lingkungan belajar yang ideal untuk waktu-waktu yang terpadu secara internal dan untuk memfokuskan belajar terpadu siswa secara internal. Model ini juga membawa secara inheren faktor motivasional karena siswa dan ide-ide memperoleh momentum dari kelas ke kelas.

Model terpadu merupakan model yang sulit dan rumit, dan oleh sebab itu memerlukan guru-guru yang sangat terampil, keyakinan dalam menentukan konsep-konsep, ketarampilan, dan sikap-sikap yang prioritas dari berbagai disiplin.

4. Model pembelajaran terpadu di dalam lintas peserta didik
Model-model pembelajaran pada klasifikasi ini adalah model immersed dan networked. Kedua model pembelajaran ini memang dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan para siswa secara individu, sehingga para siswa akan melihat apa yang dipelajarinya sebagai sesuatu yang dihayati sesuai dengan pengalaman masing-masing. Model klasifikasi ini menuntut kematangan para peserta didik, baik kematangan intelektual maupun psikologisnya, sehingga model ini tidak tepat diterapkan di tingkat SD.

a. Model Immersed
Model ini berpusat untuk mengakomodasi kebutuhan para siswa/mahasiswa, di mana mereka akan melihat apa yang dipelajarinya dari minat dan pengalaman mereka sendiri. Keterpaduan secara internal dan intrinsik dicapai oleh pebelajar dengan sedikit atau tanpa intervensi dari luar atau ekstrinsik. Setiap individu memadukan semua data, dari tiap bidang dan disiplin, dengan menyalurkan ide-ide melalui bidang yang sangat diminatinya. Pendekatan ini umumnya dilakukan oleh mahasiswa, baik mahasiswa S1, S2, maupun S3.

b. Model networked
Seseorang yang menggunakan model ini akan membuat jaringan kerja dengan orang-orang yang memiliki keahlian untuk membantu bagian dari pekerjaannya yang lebih bersifat implementatif. Mereka akan bekerja secara terpadu sesuai dengan topik pekerjaan yang mengikat mereka.
Dalam model integrasi ini, tidak seperti model-model sebelumnya, pebelajar mengarahkan proses integrasinya melalui self-selection dari jaringan yang diinginkan. Hanya pebelajar itu sendiri, yang memahami seluk-beluk dan dimensi bidang mereka, dan dapat memperoleh sumber-sumber yang dibutuhkan.

D. Penutup
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat berbagai jenis pembelajaran, mulai dari yang sangat terpisah (fragmented), sampai pada pembelajaran yang sangat terpadu. Dilihat dari tingkat keterpaduannya, maka model fragmented sesungguhnya tidak dapat dimasukkan dalam kategori pembelajaran terpadu.
Dilihat dari jenis-jenisnya, maka pembelajaran tematik (yang digunakan dalam kurikulum KBK untuk SD kelas 1 dan 2), sebenarnya adalah model webbed. Model webbed dalam penerapannya menggunakan tema-tema yang digali dan dikembangkan oleh guru dan siswa.
Pembelajaran terpadu model webbed ini cukup memberi peluang untuk pelibatan berbagai pengalaman siswa, karena tema-tema yang diangkat bisa dipilih dari hal-hal yang dikemukakan siswa, yang mungkin bertolak dari pengalaman sebelumnya, serta berdasarkan kebutuhan yang dirasakan siswa (felt need) (Joni, T. Raka, 1996). Adanya pilihan-pilihan tema dan pilihan-pilihan mengenai bagaimana cara mempelajarinya merupakan salah satu karakteristik pembelajaran yang menerapkan kecerdasan multipel. Menurut Kovalik dan McGeehan (1999), di dalam kelas yang menerapkan model pembelajaran tematik, guru mengembangkan aktivitas belajar yang mengacu pada kecerdasan mutipel (choices), mengorganisasi siswa dalam kelompok-kelompok kecil (collaboration), dan menyediakan kesempatan pada siswa untuk menghasilkan produk nyata untuk sasaran yang nyata (mastery/application level). Tema yang dipilih menyediakan struktur jalan pijakan ke konsep-konsep yang penting yang membantu siswa melihat pola dan membuat hubungan-hubungan di antara fakta-fakta dan ide-ide yang berbeda (http://www.kovalik.com).
Sebelum menerapkan salah satu jenis pembelajaran terpadu di atas, maka karakteristik siswa, karakteristik isi pelajaran, dan fasilitas belajar, serta kemampuan guru, harus benar-benar diperhatikan.

DAFTAR PUSTAKA
Forgaty, Robin. 1991. The mindful school: How to integrate the curricula. Palatine, Illinois: IRI/Skylight Publishing, Inc.

http://www.kovalik.com. 1999. The National Clearinghouse for Comprehension School Reform (NCCSR). The catalog of school reform models

Joni, T. Raka. 1996. Pembelajaran terpadu. Naskah Program Pelatihan Guru Pamong, BP3GSD PPTG Ditjen Dikti.

Kovalik, Susan J. dan Jane R. McGeehan. 1999. Integrated thematic instruction: from brain research to application. Instructional-Design Theories and Models. II. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publishers. 371-396

Pappas, Christine C., Kiefer, Barbara Z., dan Levstik, Linda S. 1995. An integrated language perspective in the elementary school. USA: Longman Publiser

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: